Kali ini saya akan share sebuah anekdot buatan saya sendiri, buat sobat yang membutuhkan silahkan boleh di copas, tapi jangan lupa menyertakan sumbernya ya ^_^. ini Teks Anekdotnya :
Anekdot PPDB
Disuatu sekolah favorit berlabel SBI, sedang dibuka pendaftaran siswa baru. Sekolah itu berada di Negara Kepulauan (yang pasti itu tidak mungkin di negara kita), pada hari itu Jono ingin mendaftar ke sekolah favorit itu, tapi dia tidak tahu kalau sekolah itu SBI. Karena tidak tahu sampai-sampai dia merupakan satu-satunya pendaftar yang berasal dari keluarga yang tidak mampu, tapi meskipun begitu dia pandai. Dia mendaftar ke
sekolah itu bersama ayahnya, tiba-tiba ada petugas menghampiri mereka “Eh, lihat tulisan itu nggak ? Pemulung dilarang masuk, kok kalian berdua masuk sih ? mau dipanggilin Satpam ya ?”. Mereka diam sejenak lalu ayah Jono menjawab “Saya memang pemulung Pak, tapi saya kesini mau mendaftarkan anak saya”, lalu petugas itu tertawa dan membiarkan mereka masuk “Coba aja, ya kalau beruntung, miskin gitu daftar disini..”. Tanpa memikirkan perkataan petugas tadi, Jono dan ayahnyapun segera ke tempat pendaftaran. Pada saat di tempat pendaftaran itu Jono diterlantarkan, dia bertanya kepada petugas “Kok saya sudah dari tadi tidak dilayani ?”. Petugas pendaftaran menjawabnya “Ada uang ada jalan, pake uang dong !”, Jono bilang ke ayahnya “Pak tadi kata petugas kita harus memberinya uang dulu Pak “, ayah Jono juga baru tahu “O gitu !, tapi nak, kita kan tidak punya uang”. Jono pun mempunyai sebuah ide cemerlang “Gini aja Pak, kita kan punya sawah, kita jual aja Pak” Dengan pemikiran yang matang, ayah Jono menjawab “Ide bagus itu nak”. Jono dan ayahnya kembali ke rumah dan menjual sawahnya. Keesokan harinya dia kembali lagi kesekolah itu untuk mendaftar lagi, kali ini jono sudah lebih PD. Dia langsung menuju ke tempat pendaftaran dan langsung menerobos antrian, “Tolong saya didahulukan Pak, kemarinkan saya sudah kesini”. Petugas menolak perintah Jono “O, tidak bisa”. Jono mengeluarkan uang seratus ribuan “Tapi uang ini berkata lain lho Pak”, sambil meremehkan jono petugas menjawab “Uang segitu udah biasa, disini aja tadi ada yang memberi saya 100 juta” Jono kembali ke ayahnya “uang kita ternyata kurang pak, yang lain malah memberinya uang 100 juta”. Ayah jono menjawab “Kalau begitu biar ayah yang bicara”, lalu ayah Jono menghampiri petugas “Pak, mau daftar kok pake uang banyak sih ?” dengan enteng petugas itu menjawab “Kalian tidak tahu ya, ini kan sekolah SBI : Sekolah Bertarif Internasional jadi apa-apa sedikit bayar lah” Ayah Jono bertanya lagi “O gitu ya, lha teruskan ada dana BOS dari pemerintah Pak ?” petugas menjawab “Dana BOS itu ya untuk Bos di sekolah ini yaitu Kepala Sekolah”. Ayah Jono menyadari dia miskin “O berarti saya seharusnya tidak mendaftarkan anak saya disini ya Pak” dengan mantap petugas menjawab “O ya jelas, kamu kan miskin, inikan sekolah khusus untuk orang kaya, prestasi dan lainnya itu kan nomor sekian, yang paling penting disini kan banyak uang”. Ayah Jono menambahkan “Pak, lebih baiknya di depan sekolah ditulis “Sekolah Khusus Orang Kaya” gitu, gimana pak ? kan akan terlihat lebih bagus“. Petugas menjawab “Ide bagus itu”, lalu si Petugas menghadap kepada kepala sekolah dan disetujui berkat tulisan itu pendaftar semakin banyak, Jono akhirnya tidak mendaftarkan ke sekolah itu, dia mendaftar ke sekolah yang berlabel “Sekolah Khusus Orang Miskin”






0 komentar:
Posting Komentar